Anugerah :D

Foto saya
Puring, kebumen , Indonesia

Minggu, 12 Oktober 2014

Makalah Dongeng Anak


MAKALAH
DONGENG
GAJAH BERGADING SATU YANG EGOIS





Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen : Drs. Komper Wardopo, M.Pd
                                                                   Disusun oleh :
                         Paryati


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2012 / 2013
Jl. Tentara Pelajar 55 B Telp./Fax. (0287) 385902 Kebumen 54312
Webside : http.//www.stainukebumen.ac.id Email : info@stainukebumen.ac.id
                                                    
 





BAB I
 PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
   Setiap anak tentu senang mendengarkan cerita, baik itu cerita dikarang sendiri oleh orang tua atau dibacakan melalui buku. Sudah menjadi kebiasaan di mana-mana, bahwa sebelum anak tidur, orang tua akan mendongeng atau membacakan kisah-kisah nyata kepada anak. Namun, kebiasaan baik yang dilakukan orang tua pada zaman dahulu, kini sudah ditinggalkan oleh sebagian orangtua yang disebabkan oleh berbagai kesibukan mereka. Padahal bila kita ketahui sesungguhnya banyak ditemukan ajaran kehidupan falsafah, hal-hal positif,kata-kata motivasi, penanaman nilai-nilai buruk, benar salah, penanaman sopan santun, budi pekerti, serta nilai-nilai positif lainnya. 
   Di sinilah sebenarnya peran seorang pendidik untuk bisa menjadi orangtua kedua di sekolah untuk bisa menanamkan nilai-nilai tersebut di atas, bagi anak-anak akan lebih mudah diterima apabila disampaikan melalui sebuah cerita dari pada menggunakan teori, baik berupa dongeng, ataupun kisah-kisah nyata yang banyak memberi pelajaran berharga dengan manusia sebagai tokohnya ataupun binatang-binatang yang dikenal oleh anak-anak.Untuk itu kita perlu mengetengahkan cerita yang memberikan motivasi kepada anak. Pepatah mengatakan bahwa,” belajar pada waktu kecil seperti mengukir di atas batu,” dan “ belajar pada waktu dewasa seperti mengukir di atas air,”. Maka manfaatkanlah usia anak sebagai masa keemasan ini untuk mengoptimalkan diri anak dengan sebaik-baiknya. Dan tentunya kita sebagai seorang pendidik tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, diantaranya dengan membacakan cerita ataupun mendongeng. Dalam cerita “ Gajah Bergading Satu yang Egois” di dalam cerita ini terdapat nilai-nilai yang dimaksud di atas. 

B. Rumusan Masalah 
1. Pengertian dan Jenis-jenis Dongeng. 
2. Apakah fungsi dari Dongeng? 
3. Bagaimanakah isi cerita “ Gajah Bergading Satu yang Egois”? 
4. Bagaimanakah kajian struktur cerita “ Gajah Bergading Satu yang Egois”. 
5. Nilai-nilai apakah yang terkandung dalam cerita” Gajah Bergading Satu yang Egois” 
  BAB II 
PEMBAHASAN
 A. Pengertian Dongeng dan Jenis-jenis Dongeng
     Dongeng adalah sebuah cerita, tetapi cerita yang biasanya dibumbui dengan hal-hal yang tidak masuk akal (tidak logis) atau tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Dongeng dapat digolongkan sebagai prosa lama. Adapun yang termasuk dongeng adalah legenda, mitos, sage, parabel, dan fabel. 
a) Legenda adalah dongeng yang menceritakan asal muls (nama) suatu tempat. 
b) Mitos adalah dongeng tentang makhluk halus atau dewa-dewi dan erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat. 
c) Sage adalah dongeng seorang pahlawan atau tokoh sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi sehingga sulit dipercaya kebenarannya. 
d) Parabel adalah dongeng yang berisi perumpamaan atau kiasan mendidik. 
e) Fabel adalah dongeng dengan tokoh binatang yang berperilaku seperti manusia. 

B. Fungsi Dongeng 
 a. Mengajarkan nilai moral yang baik.
 b. Mengembangkan daya imajinasi anak. 
 c. Menambah wawasan anak-anak. 
 d. Meningkatkan kreatifitas anak.
 e. Mendekatkan anak-anak dengan orangtua. 
 f. Menghilangkan ketegangan atau stres. 

C. Isi cerita Gajah Bergading Satu yang Egois 

   Dahulu kala, disebuah hutan tinggallah kawanan gajah. Kawanan gajah itu merupakan satu keluarga yang saling merncintai. Gajah – gajah itu berjalan bersama-sama dalam kelompok untuk mencari daun-daunan yang hijau dari satu pohon ke pohon lain untuk dijadikan makanan. Mereka juga bersama sama meminum air dari kolam-kolam yang ada. Namun ada seekor gajah dalam kawanan ini yang tidak mau menaati pemimpinnya. Gajah yang satu ini hidup tidak menuruti aturan yang telah disepakati bersama. Ia berbuat semaunya sendiri dan selalu melakukan apa saja yang ia suka. Sedangkan gajah lain merupakan satu keluarga yang tinggal bersama makan bersama dan minum air bersama-sama. Tetapi gajah yang satu ini lebih suka untuk bergerak sendirian, keluar dari kelompoknya. Suatu hari, kawanan gajah itu bergerak di hutan bersama pemimpinnya untuk mencari makanan. Pemimpin gajah itu bertubuh tinggi besar.Telinganya lebar hidungnya panjang,lebih panjang dari teman-temannya. Seperti gajah-gajah yang lain kedua mata gajah ini sipit. Ekornya juga lumayan agak panjang. Ketika kawanan gajah yang sedang mencari makan tersebut melewati sebuah jalan, seekor burung yang terlihat senang baru saja menyelesaikan sarangnya sebagai tempat tinggal. Sarang itu terbuat dari rumput-rumput yang sudah mengering. Kemudian burung itu meletakan telurnya dalam sarang. Ketika burung melihat pemimpin kawanan gajah datang, ia menjadi sangat khawatir. Burung merasa takut jika gajah akan menginjak-injak sarangnya serta menghancurkan sarang dan telur. Burung itu berharap semoga telur dan sarangnya aman dari injakan binatang-binatang bertubuh besar itu. Gajah-gajah itu berjalan semakain dekat dengan sarang burung. Ketika pemimpin kawanan gajah mendekat burung itu segera terbang dan berkata, “Tuan, aku takut kawanan gajah yang engkau pimpin akan menginjak injak sarangku dan akan menghancurkannya. Tuan, aku sudah menyiapkan sarang ini dengan banyak mengeluarkan tenaga. Aku memiliki telur dalam sarang ini, dan aku khawatir telur ini akan hancur. Pemimpin gajah itu berhenti sejenak. Kemudian burungpun segera lebih mendekat kepada pimpinan gajah sambil memohon, “Tuan aku meminta dengan hormat kepada tuan agar tuan sudi menyuruh gajah-gajah berhati-hati dan berjalan di kejauhan. “Tolong, tuan..tolong ya tuan ….agar sarang dan telurku tetap aman”. Burung telah berbicara dengan sangat manis dan sopan. Pemimpin gajah sangat senang dengan kesopanan burung tersebut. Pemimpin gajah amat terkesan dengan kelembutan dan kesopanannya. Gajah berkata, “Tentu ! Aku pasti akan membantumu. Aku akan melindungi sarang yang engkau buat dengan susah payah dan kerja keras, dan aku akan menyuruh kawananku agar berjalan di belakangku agar tidak membahayakan sarangmu. Sambil mengatakan hal itu, pemimpin gajah maju dengan sangat hati-hati, ia melangkahkan dua kaki kiri di satu sisi dan dua kaki kanannya di sisi yang lain sehingga sarang itu ada di bawah perutnya. Kawanan gajah pun mengikuti dan patuh pada pemimpinnya. Setelah kawanan gajah itu meninggalkan burung tersebut, burung berkata, “Terimakasih tuan, karena bantuanmu sarang dan telurku aman.” Sebelum berangkat, pemimpin gajah berkata,”Sama-sama. Aku bahagia dapat membantumu”. Karena aku senang membantu siapa saja yang membutuhkan. “Tuhan juga selalu membantuku kapanpun aku membutuhkan-Nya”. Sambil menggerak-gerakkan ekornya ke kanan dan ke kiri, gajah melanjutkan bicaranya,” Tuhan menyediakan makananku ketika aku lapar dan juga air ketika aku haus.” Kemudian gajah melanjutkan perjalanannya. Setelah beberapa langkah, pemimpin itu menghentikan langkahnya sejenak, kemudian memanggil burung,”Eh, burung kemarilah.....!” Burung segera mendekat.”Ada apa, tuan, kok memanggilku? Tuan, memerlukan bantuanku?” tanya burung. “Ah enggak. Aku cuma akan memberimu nasehat.’. “Nasehat apa gerangan tuan?” burung tak sabar ingin mendengarkan nasehat pemimpin gajah. Sambil mengibaskan belalainya pemimpin gajah itu berkata, “Sebentar lagi ada seekor gajah lagi yang akan datang di belakang kami. Kami telah mengeluarkannya dari kawanan kami, karena ia tidak taat, susah diatur, dan egois. Berhati-hatilah dengan gajah itu !” Burung bersyukur sekali mendengar nasehat pemimpin gajah. Ia cepat-cepat mengambil telur dari sarangnya dan memindahkannya ke tempat yang aman. Kemudian burung tersebut kembali untuk mengambil sarang. Tetapi ia terlambat, gajah yang egois telah tiba. Burung meminta dengan sopan kepada gajah egois ini agar tidak merusak sarangnya. Tapi gajah ini sangat kejam. Dia tidak perduli terhadap permintaan burung, bahkan ia sengaja menginjakkan kakinya yang berat ke sarang burung. Maka hancurlah sarang tersebut. Melihat tingkah gajah yang egois itu, burung sangat sedih. Hasil kerjanya musnah seketika. Padahal ia telah bersusah payah membuat sarang tersebut. Sekarang ia harus bekerja keras lagi untuk membuat sarang baru. Burungpun berpikir dan merasa heran, jika seseorang telah di hukum karena perbuatan buruk yang telah dilakukan sebelumnya, mestinya ia tidak meninggalkan kebiasaannya yang suka merugikan orang lain. Tuhan juga akan mengirim sesuatu untuk membantu pihak yang dizalimi. Pertanyaan muncul dalam benak burung yang malang itu ; siapakah yang bisa menghukum gajah, binatang besardan kuat? Gajah adalah binatang yang besar dan kuat. Semua hewan takut kepadanya. Burung berusaha untuk tegar. Ia mendapatkan ide umntuk mencari bantuan dari teman-temannya yang tinggal di sekitarnya. “ Mmmm siapa ya kira-kira yang bisa membantuku ?” pikir burung. “Bagaimana jika aku pergi ke rumah si katak. Ia teman kuyang tinggal di dekat kolam. Teman lainnya adalah seekor gagak yang tinggal di sebuah pohon di dekat kolam. Bukankah gagak, katak dan aku berteman sudah akrab sekali?” pikirnya. Burung yakin akan mendapatkan bantuan dari gagak dan katak. Mereka sudah terbiasa membantu satu sama lain. Ketika salah satu di antara mereka menghadapi masalah dan membutuhkan bantuan, maka yang lainnya akan membantu. Burung bercerita kepada katak tentang kejahatan gajah yang telah merusak sarangnya. Katak sangat empati ikut merasakan kesedihan yang baru saja diderita burung. Sambil melompat-lompat mendekati burung, katak bertanya, “ Kawanku, benarkah gajah yang salah satu gadingnya patah itu telah menginjak-injak sarangmu?” Sambil mengangguk-angguk, burung itu membenarkan. “Benar kawanku. Gajah itu telah merusak sarangku.” Katak menyahut,”Memang, gajah yang satu itu susah diatur, ia juga suka berkelahi. Seringnya ia berkelahi dengan gajah lain, gajah itu dihukum dengan cara salah satu gadingnya dipatahkan.” Katak itu juga menambahkan, “Gajah itu menghancurkn segala sesuatu yang ada didekatnya.” Ia menarik pohon-pohon yang dijumpainya, dan menginjak-injak apa saja yang ditemuinya dalam perjalanan. Ia telah membunuh banyak katak di kolam mini dengan menginjakkan kakinya yang berat itu. Kita belum tahu cara untuk menyelamatkan diri darinya. Sesungguhnya kita terlalu kecil dan lemah.” Setelah mendengar penjelasan dari katak, burung mengajak katak untuk berbicara dengan gagak. “Mari kita berbicara pada teman kita, Si gagak. Mungkin kita dapat menemukan solusinya,” ajak katak. Mereka kemudian mengundang gagak untuk membahas masalah tersebut. Gagak berkata, “Burung-burung gagak di hutan ini juga mengkhawatirkan gajah bergading satu itu. Ketika kami sedang tidur di pohon, ia mengambil kami dengan belalainya yang panjang dan melemparkan kami.” Burung berkata, “Kawanku kita ini kecil dan lemah, dengan bekerja sama kita dapat melakukan hal-hal besar. Jika kita bekerja bersam, kita pasti dapat memberikan pelajaran kepada gajah itu.” Mereka duduk bersama dan memikirkan rencana untuk menghukum gajah yang egois itu. Akhirnya mereka menemukan cara, setelah bersepakat menentukan jenis hukuman yang akan diberikan kepada gajah, mereka pun mulai beraksi. Setiap pagi di saat fajar mulai merekah, biasanya gajah datang ke kolam untuk mandi dan minum air. Suatu hari yang telah ditentukan bersama, burung gagak telah melakukan tugasnya, yakni duduk di atas sebuah pohon yang tinggi di sebuah kolam. Di atas pohon itu, gagak menunggu kedatangan gajah bergading satu. Dari kejauhan terlihat binatang besar menuju ke kolam. Binatang itu ternyata gajah yang telah ditunggu kedatangannya. Ketika gajah itu semakin mendekat ke kolam, gagak menemukan kesempatan untuk menghukum gajah tersebut. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Inilah rencana mereka ; Gagak diberi tugas bertengger di atas pohon yang tinggi. Setelah bertengger beberapa saat, ia segera memberi kode teman-temannya sesama burung gagak. “Kok..Kaok..Kaok….” burung gagak memanggil temannya. Semua burung gagak di hutan mendengar kode itu. Begitu terdengar, semua burung gagak dari hutan terbang turun dari atas dan satu demi satu mematuk mata gajah dengan paruh mereka agar gajah menjadi buta. Logikanya adalah jika gajah itu kehilangan penglihatannya,maka ia tidak akan menemukan jalan di hutan. Karena ia tidak bisa melihat, setiap kali ia merasa haus, ia harus bergantung pada indera pendengarannya untuk mencari kolam. Katak-katak pun bernyanyi menggiringnya menuju kolam. Setiap kali ia mendengar katak bernyanyi, ia mengikuti saja suara katak untuk menuju kolam. Tiga serangkai yang bersahabat menemukan banyak kesempatan untuk menghukum si gajah. Suatu hari yang telah disepakati, gagak melihat gajah datang menuju ke kolam untuk minum air. Gagak berteriak untuk memberi kode kepada temannya . Sesuai dengan rencana, semua katak berhenti bernyanyi dengan tiba-tiba. Gajah pun menghentikan langkahnya. Karena tidak mendengar suara katak, ia tidak tahu kemana ia harus berjalan. Lalu katak keluar dari bawah batu di kolam dan bersuara. Sambil bernyanyi, katak berjalan di depan gajah dan mulai bergerak maju, dan gajah mengikuti di belakangya. Gajah mengira bahwa katak akan pergi ke kolam, sehingga ia mengikuti katak. Dengan bernyanyi di sepanjang jalan, gajah pun mengikuti dari belakang, dan katak mulai mendaki bukit dan sampai di puncak bukit. Dengan berjalan di belakang katak , akhirnya gajah juga sampai di puncak bukit. Sambil berynanyi, si katak melompat ke sisi bukit yang lain. Lereng bukit di seberangnya sangat curam. Katak pun melompat di lereng yang curam. Gajah itu tidak tahu bahwa jalan di depannya adalah lereng yang curam. Setelah mengikuti katak, gajah itu pun bergerak maju sehingga ia tergelincir, jatuh dan matilah ia seketika juga. Demikianlah gajah mendapatkan hukuman berat karena perilaku yang buruk dan jahat tersebut. 

D. Kajian Struktur Cerita Rakyat 
    Dongeng sebagai bagian dari karya sastra memiliki unsur-unsur yang saling terkait sehingga mendukung kepaduan cerita. 
Unsur-unsur ini adalah 
1. Tema
    Tema adalah gagasan atau ide yang mendasari cerita. Dalam cerita Gajah Bergading Satu yang Egois peristiwa yang diceritakan adalah hukuman bagi gajah yang egois,yang bersifat semaunya sendiri. 
2. Latar atau setting
     Latar atau setting adalah penggambaran tempat, waktu, dan situasi yang menjadi ruang bagi tokoh-tokoh untuk hidup dan mengalami berbagai peristiwa.Dalam cerita Gajah Bergading Satu yang Egois latar yang digunakan adalah latar tempat, waktu dan suasana. Di mana peristiwa-peristiwa dalam cerita digambarkan dengan menempati beberapa tempat di wilayah di sebuah kawasan hutan, pada zaman dahulu kala dan suasana yang meng
 3. Alur (plot) 
    Alur adalah kerangka cerita yang saling menjalin berkaitan erat dengan perjalanan tokoh-tokohnya, dan terdapat hubungan kausalitas dari peristiwa-peristiwa tokoh, ruang maupun waktu. Apabila dicermati dari isi cerita Gajah Bergading Satu yang Egois alur yang digunakan adalah alur maju atau alur lurus. Secara berurutan diceritakan asal usul tokoh cerita dimulai dari asal-usul binatang sampai terjadinya suatu peristiwa hingga terjadinya konflik. Jadi kejadian atau peristiwa dalam cerita berjalan secara berurutan dari awal sampai akhir.
 4. Tokoh dan Penokohan
   Tokoh adalah pelaku dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan perwatakan tokoh/pelaku. Tokoh utama dalam cerita adalah Gajah yang egois yang memiliki berkemauan keras, semaunya sendiri, sombong, jahat, serta tidak punya perasaan, yang kedua yaitu burung yang berkarakter pantang menyerah, pekerja keras, baik, sopan santun dan cerdas yang ketiga yaitu pemimpin gajah yang berkarakter baik hati, bijaksana, suka menolong. Tokoh pendukung cerita yang ikut dalam cerita yaitu burung gagak, katak dan pasukan gajah dan di sini berkarakter baik, penurut, setia kawan. 
5. Amanat 
    Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca dalam cerita . Amanat yang terdapat dalamyaitu: 
1. Kita hendaknya menjadi seorang pemimpi harus bisa bersikap arif dan bijaksana. 
2. Kita seharusnya menepati kepada peraturan yang sudah kita sepakati. 
3. Kita hendaknya memiliki sikap sopan santun, pantang menyerah dan berusaha keras dengan penuh keyakinan.
 4. Kita hendaknya bersikap tidak egois karena kita akan dijauhi teman dan dapat merugikan diri sendiri.
 5. Kita harus percaya bahwa Tuhan itu ada dan membantu kita saat kita membutuhkan.
 6. Kita mengetahui bahwa kebenaran pasti akan selalu menang. 
 F. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat 
     Nilai adalah hakikat hal yang menyebabkan hal tersebut pantas dijalankan oleh manusia (Arijarkora dalam Evangelis, 2001 : 11). Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa nilai itu sendiri sesungguhnya berkaitan erat dengan kebaikan, yang membedakannya adalah kebaikan lebih melekat pada halnya, sedangkan nilai lebih merujuk pada sikap orang terhadap sesuatu atau hal yang baik. Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu untuk selanjutnya mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat dikatakan berguna atau tidak berguna, baik atau tidak baik, religius atau tidak religius. Hal itu dihubungkan dengan unsur-unsur yang melekat pada diri manusia yaitu jasmani, cipta rasa, dan kepercayaan. Sesuatu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai etetis) baik (nilai etis/moral), religius (nilai agama). 
1. Nilai Kearifan Lokal
a. Nilai Kepemimpinan 
   Sikap kemimpinan berupa keteladanan pada diri tokoh cerita dapat ditemukan dari    Cerita Gajah Bergading Satu yang Egois. Sikap keteladanan itu antara lain sikap pemimpin gajah yang bersikap bijaksana, mau memperdulikan yang lemah. 
b. Nilai Sosial 
    Nilai sosial adalah nilai kesetiakawanan sosial membantu yang lemah. Dalam cerita Gajah Bergading Satu yang Egois dapat ditemukan pada tokoh pemimpin gajah yang mau mendengarkan, menolong dan membantu burung yaitu mau melindungi, memberikan saran pada burung ketika dalam waktu yang genting.
2. Nilai Kependidikan 
a. Nilai Etika dan Moral
    Dari cerita ini dapat diketahui bagaimana etika dan moral ditegakkan seperti dalam diri pemimpin gajah yaitu sikap mau menolong yang lemah, sedangkan pada diri burung yaitu sikap sopan santun dan lemah lembut dan penyabar . 
c. Nilai Budi Pekerti
    Nilai budi pekerti berupa ajaran kebaikan, menunjukan mana yang benar dan salah, seperti nilai-nilai kebijaksanaan, kesopanan, suka menolong tanpa pamrih dan sebagainya.
 d. Nilai Religius 
    Nilai-nilai religius (keagamaan) yang bersifat kepercayaan, penghormatan kepada leluhur dan sebagainya bisa ditemukan dalam cerita Gajah Bergading Satu yang Egois di mana pemimpin gajah percaya bahwa Tuhan itu selalu ada saat ia membutuhkan seperti menyediakan makanan dan minuman dan burungpun per caya bahwa Tuhan pasti akan menghukum siapa saja yang menzalimi orang yang lemah.  
 BAB III
PENUTUP
 A. Kesimpulan 
      Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan dalam cerita di atas, bisa disimpulkan sebagai berikut: 
1. Cerita Gajah Bergading Satu yang Egois dapat diklasifikasikan ke dalam dongeng lebih tepatnya Fabel. 
2. Cerita Gajah Bergading Satu yang Egois memiliki isi dan tema perjuangan kisah hidup seorang tokoh dan hukuman bagi seseorang yang bersikap semaunya sendiri, alur maju sehingga dari awal sampai akhir mudah dipahami, latar yang digunakan dalam adalah latar tempat dan waktu. 
3. Dalam cerita Gajah Bergading Satu yang Egois terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang meliputi nilai kepemimpinan dan nilai sosial.
4. Dalam cerita Gajah Bergading Satu yang Egois terdapat juga nilai pendidikan (edukasi), meliputi nilai etika, budi pekerti, nilai keteladanan dan kepahlawanan, nilai toleransi, dan nilai keagamaan (religius).
B. Saran 
    Dari dongeng yang kami sampaikan, kami menyarankan kepada: 
1. Orang tua Sebaiknya orang tua membiasakan bercerita kepada anaknya baik itu cerita dongeng ataupun cerita nyata karena dengan cerita dapat dengan mudah untuk menanamkan nilai-nilai yang positif terhadap anak. 
2. Guru Sebaiknya guru dapat mengenalkan cerita ataupun dongeng di dunia pendidikan untuk menambah pengetahuan anak didik. Seorang guru dapat memberikan tugas mengenai dongeng dan membaca cerita agar anak-anak mencontoh nilai-nilai positif yang terkandung.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar